Selasa, 29 Mei 2012

Ingat pesawat ingat Habibie…(part 1)

Setiap kali saya naik pesawat terbang, yang terlintas dipikiran saya adalah kok bisa ya sambungan antara badan dan sayap pesawat itu kuat dan tidak patah, padahal dia membawa beban bahan bakar dan juga beban mesin jet, belum lagi ditambah beban tekanan udara saat pesawat takeoff dan beban guncangan saat pesawat landing.

Salah satu jawabannya sudah saya temukan di Internet. Jaman dulu memang industri pesawat terbang dihadapkan pada masalah ini, yaitu seringkali kecelakaan terjadi karena kelelahan badan pesawat. Biasanya titik rawan kelelahan ini terjadi di sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang, atau antara sayap dan dudukan mesin, apalagi ketika mesin jet baru ditemukan beban sayap pesawat semakin besar. Akibatnya kelelahan pun terjadi, dan itu awal dari keretakan. Semakin hari keretakan itu semakin memanjang dan dapat berakibat fatal, karena sayap pesawat bisa patah tanpa diduga. Hal ini menyebabkan potensi fatique semakin besar. Saat itu para ahli belum mampu mendeteksi keretakan yang timbul di bagian sambungan.

Saat itulah salah satu jenius yang dimiliki oleh bangsa kita, B.J Habibie, datang menawarkan solusi. Berikut kutipan artikel di http://www.dwina.net/ yang saya dapat dari internet:

“Ketika itulah BJ Habibie datang menawarkan solusi. Beliaulah yang menemukan bagaimana rambatan titik crack itu berkerja, yang kemudian dikenal dengan nama teori crack progression. Dengan teorinya, Habibie berhasil menghitung crack itu dengan rinci sampai pada hitungan atomnya. Hal ini tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharannya lebih mudah dan murah. Teori crack progression atau yang lebih dikenal dengan Faktor Habibie, porsi rangka baja pesawat bisa dikurangi dan diganti dengan dominasi alumunium dalam body pesawat terbang. Dan dapat mengurangi bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar sampai 10 persen dari bobot konvesionalnya.

Faktor Habibie ternyata juga memiliki peran dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara ketika pesawat take off. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Masalah penstabilan kosntruksi di bagian ekor pesawat ini dapat dipecahkan Habibie hanya dalam masa 6 bulan saja. Penemuan-penemuan yang berhubungan dengan konstruksi pesawat terbang dikenal dengan teori Habibie, Faktor Habibie, dan metode Habibie.”

Bayangkan, berarti sampai saat ini Pak Habibie menerima royalti dari setiap pesawat terbang yang diproduksi di dunia ini….superb!!!. Ketika para ahli pesawat terbang dari negara-negara maju saat itu tidak mampu memecahkan masalah ini, salah satu putra terbaik Indonesia berhasil memecahkan masalah tersebut. Bukan kah ini suatu kebanggaan buat kita bangsa Indonesia.

Saya temukan di youtube cuplikan saat dulu N250 pertama kali mengudara (http://www.youtube.com/watch?v=-FwdV28egbg). Kalau saja masih seperti dulu, kita tidak perlu repot-repot memborong pesawat dari luar negeri yang hanya akan menguntungkan negara lain. Negara kita negara kepulauan yang sangat memerlukan transportasi udara. Bila kita mampu memproduksi sendiri pesawat terbang bukankah ini suatu keuntungan besar bagi kita. Belum lagi kita bisa menjual ke negara lain. Bayangkan berapa banyak tenaga kerja terdidik yang bisa diserap oleh industri ini.

Jadi, stop menilai buruk bapak yang satu ini, beliau adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki bangsa ini. Stop terhasut omongan para politikus bermulut busuk yang suka menjelek-jelekkan beliau. Bagi yang ingin tahu mengenai latar belakang semua keputusan yang dia ambil saat jadi presiden RI ke-3, bisa baca bukunya Detik-detik yang menentukan.
Jadi apa kesimpulannya? hehehe, kesimpulannya adalah bahwa kita tak boleh lagi merasa rendah diri atas bangsa lain, kita harus berkeyakinan kita bisa maju. Bagaimana? Kurangi nonton tv dan stop menyimak omongan para politikus dan komentator yang bermulut busuk, mari kita perbanyak baca dan berbuat daripada berbicara.

Lain kali setiap kali lihat pesawat atau naik pesawat ingatlah ada karya anak bangsa ini disana. Ceritakan kesemua orang, termasuk orang-orang dari negara lain supaya mereka tahu.

Kalau ingat beras ingat cosmos, maka Ingat pesawat ingat Habibie ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar